Hukum Kesatuan

Kesatuan ialah kemusyrikan

Ga ada satupun manusia yang paham satu itu apa? yang dipahami ialah angka satu. Angka satu ialah sang satu bersama wahana nya disebut kesatuan. Dalam bahasa Arab, angka satu disebut wahid sedangkan sang satu itu sendiri yang tiada menerima kemusyrikan atau syarikat atau kongsi alias suci, disebut ahad

Tiada satupun manusia – kecuali para rosul, nabi dan Yang Dikehendaki – yang pernah mengalami suci itu seperti apa rasa nya, karena disaat manusia masih terbit kesadaran merasakan, ia masih bersyarikat dengan perasaan nya alias belum suci, apalagi tentu manusia milenial seperti saya, perasaan yang terbit berbaur bersama kotoran noda banyak angan-angan, ambisi, keinginan, syahwat, nafsu, dsb. Bagaimana mungkin perasaan kotor mampu menyentuh kesucian? terlebih menyentuh Sang Ahad itu sendiri

Manusia, makhluk lain yang hidup di alam semesta ini ber asas bukan kepada kesucian, atau Ahad, melainkan mengasas pada kemusyrikan, syarikat, persekutuan, atau kesatuan, atau wahid. Wa ilahukum ilahun wahid – begitu Allah mengingatkan kita agar jangan sampai jatuh memusyrikan Nya merasa dirinya ikut-ikutan Ahad, berdagelan suci, suci dagelan

Tubuh manusia dibentuk ditengah banyak kemusyrikan, bahkan hewan seperti cacing, bakteri yang membantu pencernaan, dsb. adalah satu bukti yang tidak bisa ditolak, selama nya manusia yang masih menggunakan jasad, selalu dalam kemusyrikan. Ingin mengenal Allah? pelan-pelan pisahkan, lalu lepaskan satu persatu ketergantungan kita kepada makhluk

Sederhana di mulut, berat di pengamalan

Tidak perlu ngayal langsung lompat pada level advanced – atau tingkat mahir. Tingkat mahir itu seperti melepaskan ketergantungan dari manusia lain, dari makhluk lain, dari bakteri yang membantu pencernaan, dari oksigen, dari cacing yang juga membantu, dsb. Mulai saja dari level PAUD, belajarlah melepas nafsu yang menjadi musuh Allah itu sendiri yaitu : (a) Kuasa (b) Ilmu (c) Kehendak

Kuasa – apakah kita ingin selalu menang di segala hal, disegala tempat wahana kehidupan? tiada rela menerima kalah, alias ingin selalu ber kuasa dan menguasai? Jika itu masih hidup dalam sanubari kita, sadarilah kita masih dibawah ancaman murka Allah Sang Maha Kuasa yang tiada mau di dua kan Kuasa Nya

Ilmu – apakah kita merasa telah menguasai semua ilmu Allah yang tergelar di alam jagad semesta dan bagi umat muslim dipercaya terhimpun dalam kitab Al Quran? Jika kita mengakui kitab Al Quran menghimpun semua ilmu jagad semesta, dan Allah mengatakan tiada yang kita ketahui melainkan sangat sedikit, bagaikan setetes air di samudera luas, bagaimana kita tiba-tiba merasa sebagai orang yang memiliki otoritas dalam ilmu Allah dalam Al Quran? lalu melotot pada apapun, siapapun yang membeda dengan diri nya. Lalu apakah qolbu yang gelap semacam ini dibolehkan menyentuh kesucian Sang Ahad? qolbu yang menjadi tandingan Sang Maha Benar itu sendiri

Kehendak –apakah kita merasa terusik jika kehendak kita dalam pemikiran, cara pandang, pendapat, penafsiran, keinginan, kemauan, kepentingan dsb. tidak dituruti? Jika kita masih merasakan hal itu, sebagaimana saya pun masih belajar melemahkan rasa gelap itu – yakinlah bahwa kita masih dibawah ancaman murka Allah yang menolak dimusyrikan dalam hak Kehendak Nya

Maka begitulah kotornya qolbu, pemikiran, sikap, ucapan, perbuatan manusia yang terpaksa disandarkan berhukum bukan kepada hukum Sang Ahad atau Sang Satu, melainkan kepada pijak kesatuan atau kemusyrikan. Kemusyrikan ditengah manusia bersama alam, kemusyrikan ditengah manusia dengan manusia lain nya, saling sadar lemah, sadar kurang, sadar perlu nya saling kenal mengenal ditengah perbedaan, sehingga mudah mendapatkan pertolongan disaat membutuhkan, dsb.

Alam kehidupan telah Allah tetapkan ber asas kesatuan, maka siapapun yang menolak asas kesatuan maka ia telah terlepas dari Hukum Kesatuan Nya. Hukum Kesatuan, boleh di istilahkan Tawhid – ialah asas yang Allah sendiri tetapkan bagi seluruh makhluk. Saatnya sadar kesatuan, kerukunan, gotong royong, saling memberi manfaat nyata-nyata manfaat bersama ditengah sesama kita, tanpa pandang suku atau merk agama

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*