Agama adalah Akal

IMAN ADALAH AMANAH BUKAN PERCAYA

Addiin huwa aqlu – Agama adalah akal, begitu kata kanjeng nabi Muhammad Saw. Laa diina, liman laa aqla lahu – ga ada agama bagi siapapun yang tak berakal

Ini setuju banget, ini lah sebetulnya ke khasan agama Islam, pijaknya adalah akal, dan ini pula mungkin yang menyebabkan bagaimana dinasti Abbasiyah sempat selama 500 tahun menjadi mercusuar pusat kegiatan sains dan teknologi dunia saat itu, dimana negara Eropa justru konon sedang masa kegelapan, karena tengah kecanduan Tuhan, sehingga sains pun harus diverifikasi oleh teman kongko Tuhan atau para dewan gereja Katolik saat itu. Sekarang gantian, trend kecanduan Tuhan atau trend jaman gelap yang dulu pernah mengkungkung akal manusia selama 700 tahun di Eropa, nampaknya sedang berusaha bangkit di negeri ini ditengah manusia yang merasa sebagai teman ngopi Tuhan

Akal, secara leksikal bisa dimaknakan senyawa, ikatan, secara tersirat bermakna kesatuan. Bagi filsafat Bhinneka Tunggal Ika, akal atau reason ya memang terbit ditengah pijak kesatuan antara Kehendak-Ilmu-Kuasa tiada pisah. Bagaimana orang mampu berfikir tanpa ditengah kehendak, bagaimana mungkin berkehendak berfikir namun tiada ilmu, dan ilmu tiada pernah terpisah dari wadah nya ialah kuasa, ibarat software tiada pisah hardware

Agama adalah akal, artinya kanjeng Nabi mengingatkan kemanusiaan bahwa akal itu karunia Tuhan hanya kepada manusia, sebagai ciri yang membedakan dengan makhluk lain, masa iya tiba-tiba Tuhan meminta kita jangan menggunakan akal, gunakan saja percaya, dalam beragama. Tuhan menetapkan Aturan Nya, dan Tuhan sendiri mematuhi Aturan Nya sendiri. Manusia rasa Tuhan melampaui Tuhan, dia bikin aturan yang berlaku hanya untuk yang lain, super sekali

Kita harus percaya bahwa Tuhan mengawasi kita

Kalau kita percaya sebuah toko sedang diawasi satpam, lantas kita masih berani nyolong, ini namanya mencuri atau merampok? merampok tentunya, dan inilah yang terjadi ditengah dagelan agama, agama dagelan. Berkata konon Tuhan mengawasi perbuatan, lah masih berani nyolong alias bikin dosa

Ajaran agama itu seperti kurikulum atau pedoman, yang dibisikin Tuhan melalui para utusan Nya yang isi nya adalah bagaimana cara nya memaksimalkan piranti amanah Nya yaitu jasad-nyawa kita ditengah kehidupan, agar bisa tampil sebagai manusia pemimpin, manusia khalifah yang diam-diam diliat ditengah masyarakat sebagai contoh. Masa iya sih isi materi nya ga bisa dipahami akal? Apapun yang belum bisa dipahami akal makna, tujuan, serta manfaatnya ya pikirkan dulu, renungkan

Nabi mencontohkan memakai celak mata, itu sindiran agar umatnya mengurangi tidur. Orang yang kurang tidur, bangun malam, munajat, dijamin dibawah kelopak matanya menghitam. Malaikat tidak masuk rumah yang ada anjing nya, anjing adalah simbol kuasa, makna nya, malaikat tidak ada di rumah atau qolbu orang yang hidup rasa kuasa nya, dsb. Mari kita sama-sama berupaya mencermati makna ajaran yang dibawa oleh beliau ditengah akal kita, lalu kita gunakan sendiri sebagai pakaian, agar menjadi contoh ditengah umat yang masih kita anggap salah, keliru, buruk, sesat, dsb.

Manusia khalifah adalah contoh yang tak mencontohkan, di tengah masyarakat bahkan dia tak perlu mengajak, apalagi mengejek, menghina, menggempur, ibarat tukang dagang marah pada siapapun yang tak membeli dagangan nya, ini bukan khas bangsa kita bangsa cinta. Saatnya beragama ditengah merek apapun juga, berpijak pada akal bukan malah akal-akalan demi kepentingan pribadi, agar bangkitlah era baru peradaban kemanusiaan ditengah kita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*